Skagrisa — Langit cerah Selasa pagi, 25 November 2025, menjadi saksi ketika ratusan siswa SMK PGRI 1 Surabaya berdiri khidmat di lapangan sekolah. Tidak sekadar barisan dan prosesi upacara, tetapi makna penghormatan untuk para pendidik tercurah dalam momentum Hari Guru Nasional (HGN) 2025. OSIS Skagrisa sebagai pelaksana kegiatan menghadirkan suasana upacara yang penuh kesan mendalam dan nuansa haru.
Tepat pukul 07.00 WIB, suara lantang MC M. Rizky Pratama membuka jalannya upacara. Barisan siswa tampak rapi, sementara sang pemimpin upacara M. Uwais Al-Qarni dari kelas XI TITL 2 memimpin langkah-langkah komando dengan penuh wibawa.
Sementara itu, bendera Merah Putih perlahan naik ke angkasa, dilaksanakan oleh tim Pasukan Pengibar Bendera yang terdiri dari M. Rafy Saputra (X TPm 1), M. Daniyal (X TITL 2), dan Vino Maulana W (X TITL 1). Seluruh peserta upacara berdiri tegak, meletakkan tangan di dada, meresapi makna cinta tanah air dalam keheningan khidmat.
Upacara hari ini semakin syahdu ketika Bapak Supriyadi, S.S., selaku Waka Kurikulum SMK PGRI 1 Surabaya, bertindak sebagai pembina upacara. Beliau memimpin penghormatan dan “menghentikan cipta” dengan penuh penghayatan.
Selanjutnya, teks Pancasila dibacakan oleh pembina upacara diikuti oleh seluruh peserta melalui panduan Achmad Syaifullah (X TSM 3). Suara tegas mereka menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar hafalan, tetapi pedoman hidup.
Pembacaan Pembukaan UUD 1945 oleh M. Aiman Fakhri A. (X TPm 2) menambah kekhidmatan suasana. Namun momen paling emosional muncul ketika lagu Hymne Guru melantun. Ratusan suara siswa dan guru menyatu, dan banyak mata tampak berkaca-kaca mengingat jasa para pendidik yang selalu hadir dalam setiap langkah mereka.
Dalam amanatnya, Bapak Supriyadi, S.S. menyampaikan pesan bahwa guru bukan hanya pengajar ilmu, tetapi pendamping kehidupan. “Guru tidak hanya transfer ilmu, tapi lebih dari itu, bersama siswa mengamalkan asas Pancasila,” ujarnya tegas namun penuh kehangatan.
Doa yang dipimpin oleh Gandhi Dwi Ramadhan (X TPm 1) menutup inti upacara. Untaian kalimat harunya menggema: “Jadikan HGN ini momentum memperbaiki diri.” Lapangan kembali hening; semua kepala menunduk memohon keberkahan untuk para guru yang telah mencurahkan hidupnya demi pendidikan.
Namun upacara belum benar-benar berakhir. OSIS menghadiahkan penutup spesial — pembacaan puisi berjudul “Pelajaran Tanpa Kata” oleh M. Raffy Sahputra (X TPm 1). Dalam posisi santai, seluruh peserta upacara menikmati setiap larik puisi yang menggambarkan bagaimana guru mengubah dunia bukan dengan sorotan panggung, melainkan dengan ketulusan yang diam. Ketika puisi usai, tepuk tangan dan sorak sorai pecah memenuhi lapangan, seakan menjadi pelukan hangat untuk seluruh guru SMK PGRI 1 Surabaya.
